Dijkgraaf,

Aku ingat malam itu.

Ruang dapur telah sepi, piring -piring bersih, panci-panci dalam rak tersimpan kembali. Makanan-makanan sisa dibungkus Phill, yang mungkin kini sedang berpesta bersama Miguel, Aloek, atau siapa saja yang ditemuinya di Droevendaal. Sisa Chianti Classico ku tuang , menuju kamar.

Dalam kamar no 9, aku tak hanya membereskan baju, memadatkan nya dalam koper, bersama poster-poster, bersama lukisan-lukisan palsu Van Gogh, Monet, atau Gustav Klimt yang kubeli di toko souvenir di berbagai muse. Aku tak hanya membungkus turntable philip tua dan vinyl-vynil murah yang dibeli diloakkan. Aku sebenarnya mengemasi hidup 2 tahun, yang segera usai.

Kubuka kotak tembakau, melinting American Spirit. Kukancingkan jaket tebalku, kubuka pintu kaca kamar, ditampar angin dingin malam bulan Maret. Kunyalakan dan kusesap dalam-dalam. Mondrianlaan yang temaram dan sepi. Pohon-pohon yang kering dan gersang, seolah mati, tertidur dalam winter yang panjang.

Teman-teman ku yang lain mungkin juga sedang sibuk mengemasi koper dan hidup 2 tahunnya. Mungkin sebagian sudah tak sabar hendak bergegas menuju Schipol. Sebagian mungkin tak sabar bertemu yang menunggu di rumah di Jakarta, Bandung dan lainnya. Tidak dengan ku. Aku ragu, kadang merasa aku benar-benar aku, diantara kepulan lintingan dan diskusi-diskusi panjang , kadang tak ada arti. Kadang, aku merasa menjadi utuh, saat mengayuh sepeda panjang dan lama, menyusuri jalan-jalan di sebelah parit-parit dangkal dari Sloterdijk hingga Tom Schreursweg. Ditengah -tengah negara yang dingin dan remang-remang ini, aku menemukan hangat di antara pelukan-pelukan orang asing.

Gelas ku kosong. Chianti sudah tandas. Linting sudah kubuang.

Malam kini ku tutup. 2 tahun itu benar- benar selesai.

Untuk Dijkgraaf, 7 Maret 2018

Moses.

Megere Brug sudah terlihat di depan. Hari gelap seperti hari-hari sebelumnya di November. Sepeda bututku kini sepertinya benar-benar akan tumbang, melawan angin- angin berhembus kencang, membawa dingin dari pinggir-pinggir Sungai Amstel yang kotor.

“Prinsengracht, Prinsengracht” aku merapal nama jalan menuju rumah Ann, sambil melihat papan-papan nama jalan. Di punggungku tersemat tas kain blacu, berisi bumbu dapur, tahu dan banyak sperziebonen– kacang buncis. Malam ini aku akan memasak bersama Ann dan keluarga.

Sepeda kuparkir sembarang. Kuketuk pintu oranye itu, senyum Ann mengembang. Seperti rambut jagung nya yang menyala, Ann selalu terasa hangat, kupeluk Ann dalam-dalam, kuhirup bau winternya, ah kita sama-sama belum mandi. Ella, gadis gimbal itu sudah duduk di meja makan, menoleh kepadaku dan berteriak ” Golden Boy”! Ella meletakkan gelas wine nya, berhamburan berlari ke arahku, memelukku lebih erat dari Ann. Ah, Ella pasti sudah lama tak mandi.

Aku keluarkan isi tas blacu, sambil mengobrol dan mengeluh tentang cuaca- seperti yang kami semua lakukan tiap hari di Amsterdam. Moses, yang duduk angkuh, tak mengacuhkanku. Dijilatinya bulu-bulu nya dengan santai, dengan elegan. Kucing tampan itu tak boleh dipegang, atau dielus sembarangan. Aku masih punya bekas luka dari pertemuan dengan Moses sebelumnya.

Aku mengambil alih dapur, merajang air, mengupas bawang, dan memotong buncis sambil mendengarkan cerita Ella, tentang Maine, kampungnya yang jauh di Barat. Ella merindukan seafood, bau laut yang amis dan asin, bau geladak kapal ayah dan pamannya. Aku menyambung, tentang rindu yang tak pernah kuungkap pada ayahku, yang hitam hangus terbakar matahari , ikan segar yang dibawanya saban pulang memancing di Gusong-Gusong dekat laut Selindang.

Hujan deras di luar, Moses beranjak dari duduknya, menuju pintu. Kucing tampan memang sedikit aneh. Ann menaruh kursi di depan pintu, Moses memanjat dan duduk terpaku, memandangi hujan dari kaca pintu.

Jangankan Ann, Ella, dan Amsterdam dengan segala isinya, bahkan kau pun kini kurindui, Moses.

Amsterdam, November 2017.

Kita yang Palsu

Saya memikirkan setiap pilihan yang kita punya.

Yang seperti tak terhingga, padahal penuh batasan, seperti term and reference terselubung.

Tapi, sepertinya pula, batasan-batasan pun semacam diatur atau teratur. Ras, Kasta, Tahta, Agama mungkin bagian umum yang mengkotak-kotakkan batasan tersebut. Hal- hal lainnya, mungkin juga mengambil peran dalam pilihan-pilihan yang kita pilih.

“Ada yang memilih mengasingkan diri jauh ke dalam belantara, berkata selesai pada hal- hal urban, pada peradaban. Ada yang memilih menyelesaikan masalah-masalah internal yang dipercaya signifikan. Ada yang memilih kebenaran yang fana dan dipercaya, walau harus berdarah- darah. Ada yang memilih untuk dapat menjadi apa saja atas nama pasar, permintaan klien, atas nama kepentingan bertahan hidup atau rencana membeli sesuatu”.

Saya merasa terkadang terlalu naif, untuk mencoba mengerti dasar pilihan -pilihan yang akhirnya terpilih. Saya pun bingung yang mana yang harus dipilih. Bukankah kita sering menanyakan , kepada diri sendiri atau mungkin meragukan hal-hal yang telah kita pilih.

Tapi, saya pikir, pilihan terburuk adalah memilih menjadi palsu.

Pesan -pesan palsu. Dalam bentuk apapun. Pesan dan berita yang disampaikan, yang tergerus oleh kepentingan sesuatu sehingga menjadi jauh dari nilai orisinil dan penuh kepalsuan.

Saya rasa, mungkin menyenangkan untuk tidak menjadi palsu. Tidak mengabarkan hal- hal palsu. Tidak menjadi orang lain , atau kepalsuan lain dengan cara memalsukan sesuatu. Saya kadang memikirkan, bagaimana orang-orang yang palsu bisa tertidur, setelah mengabarkan, menyampaikan sesuatu yang palsu, dan secara sadar tahu bahwa ada sebagian besar atau kecil kelompok yang tahu, bahwa itu palsu?

Saya akhir-akhir ini, dalam waktu senggang yang sedikit, bertanya dalam hati ” apakah kita yang palsu ini, masih punya sesuatu yang tidak akan kita jual untuk pasar, untuk iklan, untuk kepentingan media, untuk title-title masa kini lainnya”?

Sayangnya, saya tidak pernah akan tahu bagaimana rasanya menjadi orang lain, menjadi apa saja, menjadi palsu demi sesuatu, karena saya hanya bisa memilih menjadi saya, dengan keterbatasan dan kotak -kotak pembagi sebelumnya.

(Meracau, Beji)

Di kamar Beji

Aku menemukannya saat menyapu kamar dan menyikat lantai toilet.

Helai- helai rambut mu, yang panjang dan hitam. Ku kumpulkan jadi satu, ku pandangi sebelum kubuang ke kotak sampah, bergabung bersama sisa telur asin basi dan kulit duku, tadi malam.

Aku ingat dalam satu malam, menceritakan banyak hal. Salah satunya tentang laki-laki penyadap karet yang mati ditembak puluhan tahun lalu. Cerita itu, di dalam kepalaku, kukait-kaitkan dengan matinya Munir, hingga teringat pada rencana yang belum sampai untuk berkunjung ke Omah (baca: rumah) nya di Malang di akhir tahun lalu.

Kadang, aku bertanya-tanya, apa yang kau pikirkan saat aku ceritakan semua hal-hal itu, yang tak ada sangkut paut dan mungkin asing dalam pertimbanganmu?

Aku sering terbangun, lagi, akhir-akhir ini. Entah karena apa. Mungkin untuk sejenak mendengarkan malam yang terus mengaung di jalanan Beji. Atau mungkin untuk mendapati, kamar yang gelap dan sepi, kasur yang lapang karena kau yang sudah pulang, meninggalkan helai-helai rambut, menunggu untuk ditemukan, kala menyapu lantai, dan menyikat toilet nanti.

(Beji)

Meracik bumbu sadar.

Apakah Tuhan menitipkan keresahan di dalam tiap-tiap dada manusia, lalu menikmati kejadian setelahnya, tentang bagaimana kita dapat memilih sikap dan menanggapinya ?

Saya, seringkali memupuknya hingga besar , menjadi gundah dan gulana, atau pura- pura merendamnya dalam laku hingga setengah lupa. Padahal saya hampir paham dan tahu, di kemudian mereka datang lagi, seperti burung- burung ramai bermigrasi, bergerombolan. Seperti jamur- jamur kawan dan Tiong di penghujung musim penghujan di bawah pokok -pokok Pelawan, tumbuh bagai beludru.

Sebagian dari kita, mencoba meredakan nya dengan segala mabuk Dunia. Mabuk yang macam- macam. Di Bali, orang mabuk beramai- ramai atau sendirian. Mabuk berdansa di Seminyak, tertawa dan berpesta. Atau di kamar-kamar sempit, sendiri menyesapi satu demi satu, menangis pada sebab yang tak tentu. Di banyak tempat, saya pikir pilihan mabuk lebih beragam , hingga kita dapat memilih mabuk- mabuk yang lain, seperti mabuk pada nilai- nilai dan idealisme, mabuk pada zodiak, mabuk pada mimpi- mimpi yang telah lalu tentang hal- hal yang telah kita lakukan sebelumnya, dan berharap itu tidak pernah usai.

Sebagian lagi, mabuk dalam pikiran nya sendiri, mencoba mengartikan dan menghubungkan nya dengan berbagai macam teori. Seorang dalam pribadi nya yang lain menyebutkan : “saya bersembunyi, di belakang makanan, di dalam selimut obat-obatan, di lawan-lawan jenis yang saya kagumi dan jadikan bahan berimajinasi, serta tumpukan-tumpukan rencana buku- buku yang ingin saya baca” . Itu pun terdengar mabuk, sayangnya.

Lalu, saya pikir- mungkin juga banyak atau sedikit di luar sana- mencari jawaban, atau sumber- sumber kegundahan, mencoba cara yang satu, mendapati diri gagal, kemudian memutar otak dan mencari referensi baru, mencoba kembali hingga mungkin puas mencoba , tanpa tahu gundah dan resah itu benar-benar sirna.

Apakah keseresahan dan kegundahan adalah resep menjadi kita? menjadi benar- benar kita, sebagai makluk, sebagai individu? atau keresahan -keresahan kolektif menjadi kita berbangsa- bangsa, berkumpul dan membentuk peradaban ?

( untuk malam- malam yang panjang, dengan diri kita masing- masing: salute)

Himne Hutan

Terinspirasi (ataupun kau boleh bilang mencuri, aku tak peduli) oleh A Forest Hymn- William Cullen Bryant.

Hutan – hutan adalah kuil- kuil pertama Tuhan.

Jauh sebelum kita datang, belajar memotong kayu dan dahan, membuat meja, kursi dan ukiran, melingkari jendela, mempercantik ruang tamu dan menghiasi altar-altar tempat ibadah agama – agama baru.

Hutan-hutan masih menjadi kuil, bagi mereka yang mendengarkan.

Dinyanyikannya dalam hening, ayat- ayat kebesaran Tuhan, dirapalkannya dalam kabut-kabut sebelum Fajar, firman-firman dalam fauna, pada flora, dan jalinan keduanya.

Hutan-hutan, selamanya akan menjadi kuil suci Tuhan.

Hanya kita, menjauhkan dan mengurung diri, berdesakan dalam kerumunan, beramai-ramai mengisi tempat- tempat sakral, lupa kembali, bersujud dan mendengarkan, Himne Himne Hutan.

(Teruntuk Masyarakat adat Desa Gukguk, Masyarakat adat petani pala di Kokas, dan Chico Mendes)

Sisa-sisa 2019.

Saya mengenang 2019, dalam berbagai corak. Saya mengenang awal 2019 dengan perasaan yang hangat, seperti jam 5 sore di Sanur ataupun di Jimbaran, menunggu matahari tenggelam, pelan- pelan dan menenangkan di pantai-pantai yang tak terlalu ramai di Uluwatu. Hidup seperti cukup di Bali, cukup dengan bercerita pada teman- teman ataupun mereka yang asing, tak kurang dengan senyum-senyum mengembang di setiap penghujung Minggu, tak berlebihan di antara pesta-pesta yang kadang santai, kadang kosong, kadang bergemuruh.

Di sepertiga 2019, saya limbung menerima kabar. Urban memanggil, saya harus pergi. Saya ingat sedikit kikuk di awal untuk adaptasi. Idealisme dan cara berpikir yang terkungkung kulit ari Eropa dan Bali, saban hari diuji oleh debu dan napsu urban dan kota besar. Lalu, kesabaran dan nilai-nilai yang saya percayai diobrak abrik oleh keadaan, target, performance indicators dan berbulan -bulan di Papua. Saya tersungkur, ditampar bertubi-tubi oleh kenyataan, oleh jurang- jurang pembangunan, oleh romantisme dan bau harum mantra-mantra teori pembangunan berkelanjutan. Saya meringkuk, antara tidur dan tak tidur : di kamar hotel, di lantai kepala kampung, di teras tokoh adat, dan di antara semuanya.

2019 mengajarkan saya, betapa dangkal nya bila nilai-nilai yang saya percayai tidak didukung dengan pengetahuan, keteguhan hati, dan kelapangan diri. Saya lebam, merintih dan menyadari: bahwa hal-hal yang saya pikir saya miliki, mungkin dari awal tak layak dan benar- benar dapat dimiliki. Namun, 2019 pun mengenalkan saya pada diri saya sendiri: saya lelaki perasa, tak lembut tapi mudah gelisah. Saya pikir saya makin lihai menutupi banyak hal, berkompromi. Saya pikir 2019 menjadikan saya lebih manusiawi: menerima dan dapat memaki diri sendiri.

Di penghujung tahun, 2019 memberikan pelajaran , sks terakhir: merelakan dan menerima , bahwa hidup terus berjalan pada kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti. Di akhir-akhir 2019, saya sering bertanya- tanya, apakah idealisme dan nilai-nilai saya yang salah dan tak berfondasi, atau kah kenaifan saya terhadap dunia yang penuh kompetisi. di ujung sekali, saya mencoba nya lagi, pada satu hal yang saya kadang takuti dan tak ahli. Saya ingin sekali mempercayai, bahwa saya hanya perlu khawatir pada hal-hal dalam kendali saya sendiri. Saya ingin bisa tidak patah hati, tidak berharap pada hal-hal selain kedua tangan, kedua kaki dan isi kepala ini. Saya berdoa panjang-panjang, pada apapun yang mendengar doa-doa, semoga saya tak terjebak dalam egosentris, sambil mencoba berdamai, dengan kecamuk dalam benak, yang menggangu saban hari. Saya berharap saya dapat menopang mimpi-mimpi sambil menuju hidup, yang saya bayangkan sebagai hidup itu sendiri.

Depok, Februari.

Jeda.

Bibir pantai putih, beriak di laut yang biru,

Menghiasi poskar ,tersemat bersama Pinot Noir.

Kita dimabuk banyak hal, Anggur, lelah dan pula rindu.

Rindu sepanjang pelabuhan pelabuhan transit, antara negeri-negeri dan kota- kota.

Resah di hari-hari yang menderu, tak peduli doa-doa yang dipanjat, demi memotong jarak dan waktu.

…..

Kita adalah kumpulan jeda yang sempit,

Di sela siaran dan gemerlap duniamu,

Di pikuk Balai kota,

Di waktu transit dan terminal-terminal Soekarno-Hatta.

Renon, 2019.

Catatan akhir pekan-Jakarta.

Mega Kuningan, Irina dan Kumpulannya.

Kita menggunakan nya untuk apa saja, tapi untuk saya, rasanya cukup 3: membilas, bergembira, dan nestapa. Alkohol. Saya mendapati diri tertawa dan bergembira bersama rombongan saya baru kenal 3 jam lalu. Tak ada Sisyphus dan batu nya malam ini, tak ada filsafah Walden di lantai dansa, hanya laki-laki berdandan wanita, Irina dan kumpulannya. Saya tadinya berpikir, tempat ini adalah suaka, hanya bagi mereka yang tak pernah meminta orientasinya jatuh pada sesama atau pada kedua nya. Tapi nyatanya, kami yang mengaku hetero, pun ikut dalam gegap gempita dan gembiranya. Saya meneguk gelas shot pemberian pria berpenampilan Rihanna, mencium pipinya dan pipi-pipi lainnya. Saya tidak berada di Café Montmartre ataupun Taboo di Amsterdam, namun terasa begitu. Lampu disko, pria-pria cantik, Karina dan Irina, memanggil ingatan pada Belanda yang terbuka dan majemuk. Saya meninggalkan klub itu dengan penuh elasi di dada. Pulang dan di Panglima Polim, saya terlelap, bermimpi tentang kucing-kucing dan Bali.

Macet di depan Aksara

Saya tidak pernah terkenal. Tapi saya paling takut terlupakan, karena nya saya menulis. Tapi tujuannya bukan terkenal. Karenanya, di jam masakan siang, saya membayangkan hidup Ver, yang sedang menyeruput pho dengan lahap, di kursi depan. Bagaimana hidup terasa ketika begitu banyak yang merasa mengenal kita? Bagaimana hidup terasa apabila “hidup” menjadi sesuatu yang kita relakan untuk dibagi dan menjadi konsumsi bersama?. Ver tak berhenti bicara, di jalan menuju sinema. Menjelaskan banyak hal, termasuk antrian panjang gerai XING FU TANG. Saya menarik kesimpulan dari kata Ver, bahwa di Jakarta, pria yang rela mengantri boba untuk pasangannya, layak dipertimbangkan. Tentu sampai mati saya tidak akan sepaham dengan konsep itu. Kami memonton dan saya pikir, saya tidak pernah sebelumnya mendapatkan banyak informasi tentang film ataupun aktor di dalamnya, sebanyak ketika Ver di sebelah saya. Kami bertepuk tangan di usainya film, untuk aktor-aktor, untuk semua crew, dan terutama untuk uang Erick Tohir.

Kemudian kami menuju Aksara, Ver menyetir pelan, di tengah macet nya Kemang, dan berbincang akan banyak hal. Saya pikir, mungkin karena pengaruh alkohol semalam, atau suasana saat petang, kami membacarakan nilai- nilai dan hidup. Mungkin di usia 30, hangover bukan lagi berbentuk pusing dan lelah, tapi menjadi ratapan dan pengharapan.

Beji, 2019

De Eeuwige herinneringen*-

Catatan kecil Dari Utara, Selatan ke Timur Eropa.

Mari melipat, kenangan yang menggenang di tahun-tahun silam. Melapihnya dalam pintalan, seperti kajang.

Ziarah Roma dan Mi Amore, Artichoke!

Di pilinan pertama aku melihat Roma dan Vatikan, susunan reruntuk puing kebesaran lampu, di awal musim dingin 2018. Aku menemukan diriku, dikenangan menikmati pizza (yang katanya) terlezat di dunia, tak jauh di belakang hiruk pikuk antrean Vatikan. Bonci, nama gerai pizza tersebut, menjadi Vatikan kedua, ditandai dengan antrian tak kalah panjangnya. Tak ada pizza tipis dan bulat di etalase, lapisan-lapisan gandum persegi panjang menggembung dilapisi saus tomat, keju, sayur, tuna, salame dan lainnya. Kami makan berdiri, di depan gerai, di pinggir jalan yang senggang. Giulia mulai mendongeng, tentang pizza-pizza yang mulai dibukukan di abad ke-1o, tentang aturan-aturan yang dilanggar oleh banyak franchise-franchise Amerika tentang pizza. Di detik detik itu, Giulia menjelma menjadi stereotype “Mama Italia” dan aku jadi umat yang taat mendengarkan, sambil mengunyah berkat pizza tanpa jeda.

Colosseum dan antrian panjang, seperti tak habis-habisnya. Di dalam, hilir mudik turis ber-swagambar, sebagian mendengarkan guide-guide, dan sebagian, termasuk aku tenggelam mendengarkan penjelasan dari tape.

Aku membayangkan riuh yang pernah ada, dan hidup mati gladiator dan hewan-hewan buas. Memang, kekuasaan adalah candu dan bahaya. Manusia yang mengaku berbudaya, berbekal akalnya, menjadikan hidup mati hiburan belaka. Kami berdua kemudian melipir, mengunjungi sebuah sebuah cafe kecil, memesan bir dan menikmati sore di hilir mudik Roma. Malamnya kami pergi makan, di resturan tua, dan saya memesannya: Mi Amore, Artichoke.

Mengecap Balkan Sasa dan Kunyuk Tram

Sore menjelang malam, matahari sudah lama berpamitan, di gerimis musim dingin di Zagreb. Sasa yang mungil, berpayung menunggu di Kolodvor. Kami membuat makar, tak membeli tiket tram, naik dan turun tanpa membayar. Belum sehari di Balkan, jiwa kunyuk ku sudah terpanggil. Sasa berbicara apa saja, menuntun dari terminal hingga ke supermarket, tak putus-putus saat aku memilih bawang dan jamur, hingga sampai apartment nya. “Aku segera pulang ke Indonesia, lalu ke padang, menikah di sana” ujarnya mengiringi serutan-serutan ku pada Karlovacko. Kami makan tumis jamur dan bakwan jagung, lalu tidur.

Besoknya kami ke pasar, sarapan dan mengunjungi stall-stall buah dan sayur. Aku ingin berbicara tentang Luka Modric, tapi takut di tampar Sasa.

Kami lalu naik bus, kali ini kami bayar. Bus dimulai dari Kaptol dan turun di Mirogoj-Arkade. Aku mengikuti jalan Sasa yang kecil, kadang berlari dan sampai di pusara- pusara Mirogoj yang megah. Mirogoj, adalah Amazon bagi orang mati. Mirogoj, seperti hutan hujan tropis, menyimpan keaneragaman hayati nisan dan pusara. Di Mirogoj, makam Katolik dan Protestant bertindih, Muslim dan Yahudi bertetangga, Latter Day Saint dan Orthodox berdampingan mati, mungkin damai dan kekal. Mirogoj menjelma majelis bagi lambang- lambang Tuhan dari segala agama.

Diambil oleh Sasa, di sebuah altar penghormatan untuk Yesus di dalam kawasan Mirogoj.

Kami lalu naik bus, kali ini kami bayar. Bus dimulai dari Kaptol dan turun di Mirogoj-Arkade. Aku mengikuti jalan Sasa yang kecil, kadang berlari dan sampai di pusara- pusara Mirogoj yang megah. Mirogoj, adalah Amazon bagi orang mati. Mirogoj, seperti hutan hujan tropis, menyimpan keaneragaman hayati nisan dan pusara. Di Mirogoj, makam Katolik dan Protestant bertindih, Muslim dan Yahudi bertetangga, Latter Day Saint dan Orthodox berdampingan mati, mungkin damai dan kekal. Mirogoj menjelma majelis bagi lambang- lambang Tuhan dari segala agama.

Aku tak mendapatkan kesan yang terlalu suram dari Zagreb. Tagar Perang Kroasia tak terasa sisanya di sini. Tapi mungkin karena akupun tak terlalu banyak bertanya atau tak fokus mencari remah-remah lara dan duka perang pemisahan diri serta penolakan akan Republik Sosialis atau Serbia Krajina tersebut. Tapi Sasa seperti ahli nujum, berkomentar ” benci itu masih berakar, bila kau bicara Serbia dan membahasnya disini”. Mungkin lain kali aku harus mengobrol dengan orang Kroasia, mungkin Luka Modric.

Wina- Raden Saleh dan Perang.

Pelan-pelan ku tarik dan ku jalin, ingatan pada Vienna yang dingin, pada batang rokok terakhir sebelum Danube yang bisu. Danube yang hitam memantulkan langit musim dingin, menjadi saksi, tempat membuang mayit, mengalirkan darah perang dunia I dan II hingga jauh ke Budapest dan Bosnia. Aku makan malam sendirian, memesan bir dan kudapan seadanya, tertampar mahalnya Austria. Aku terngiang pada gadis-gadis Batak di  Weltmuseum Wien, pada kumpulan wayang dan artefak di Lagerraum museum ini. Aku dan gadis-gadis batak itu, melongo terpana pada lukisan Raden Saleh yang Agung. Dr. Sri Tjahyani Kuhnt-Saptodewo yang mengundang kami, mungkin maklum pada noraknya mahasiswa-mahasiwa miskin ilmu, harta dan dan budaya.

Bersama Dr. rer.nat. Adryan Fristiohady Lubis, di dalam Welt Museum Wien.

Aku pulang berjalan kaki, menuju kediaman Mas Adryan. Dingin menggigit di sela jari kaki dan tangan, jalan di malam terasa lenggang. Aku berjanji memasak makan malam untuk Mas Adryan, Mas Sisko dan Ulfah, sebagai ucapan terima kasih untuk tinggal di tempat mereka selama di Wina. Aku menuju Spar, memilih bahan ditemani pikiran tentang perang perang yang telah dan belum selesai. Dalam perang yang lalu, I dan II, kita mencatat dan berduka pada angka-angka manusia yang mati. Kita meromantisme dengan prasasti, dengan autobiography, dan karangan tentang konspirasi.
Kita membangun dan museum dengan apa saja yang dapat kita nikmati, dari perang. Dan kita tahu, selalu ada yang kalah, mati dan terlupakan, karena perang. Yang menang, menulis cerita, menjadikan apa saja benar.

——————————————————————————————————

Aku ingin pernah membuang banyak kenang-kenangan. Aku pikir ingatan itu nanti nya akan lenyap sendiri. Tapi nyatanya tidak. Aku mencoba membilasnya di Tanjung Tinggi dan Kelayang, tapi mereka kokoh bercokol. Telah ku bawa jauh-jauh, menenggelamkannya di laut antara Lombok dan Sumba, mengkaramkan nya di karang-karang Labuan Bajo, dan mencoba menguburnya di Rinca yang gersang. Tidak hilang juga. Aku menumpuknya dengan cerita- cerita party di Bali, membasuhnya dengan Arak  dan Abidin (Anggur bir dingin- red), tetapi ingatan seperti tahi lalat. Tak lekang tak bergeming. Mungkin karena aku sepenuhnya menikmati, suka dan lara, cita dan duka dari kenangan yang ada. Kalau begitu, biarlah, menjadi selamanya. Menjadi De Eeuwige herinneringen.

Beji, 2019.

(untuk Giulia, Sasa, Ulfah, Mas Adryan dan Mas Sisko)